Minggu, 06 Desember 2009

DETEKSI DINI KELAINAN POSTUR TUBUH

Usia sekolah merupakan periode pertumbuhan dan perkembangan fisik yang cukup pesat. Selama proses pertumbuhan dan perkembangan fisik, anak-anak rentan untuk menderita cedera. Data Dinas Kesehatan (2009) melaporkan bahwa anak usia 5-14 tahun yang menderita sakit sekitar 23,8%, dimana 60%-nya menderita sakit cukup parah sehingga mengganggu aktivitas sekolah. Gangguan perkembangan dan pertumbuhan pada anak sekolah sangat bervariatif. Salah satunya adalah gangguan pada system otot dan tulang (musculoskeletal). Aktivitas anak di sekolah seperti cara duduk yang tidak benar, beban bawaan yang berlebih menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya gangguan pada system otot dan tulang. Gangguan ini apabila dibiarkan lebih lanjut akan mengakibatkan terjadinya kelainan postur tubuh.
Kelainan postur memiliki dampak yang tidak kecil terhadap banyak aspek kehidupan manusia. Misalnya; adanya gangguan sistemik seperti gangguan pernafasan dan organ internal lainnya, menurunnya tingkat kepercayaan diri anak akibat adanya perubahan fisik secara kosmetik, gangguan keseimbangan, gangguan koordinasi dan ketangkasan gerak dalam aktivitas. Dampak lain dari ganggguan ini adalah munculnya gejala nyeri, cepat lelah, dan ketidaknyamanan dalam melakukan aktivitas sehari-hari yang akan mempengaruhi konsentrasi belajar baik disekolah maupun dirumah. Bahkan keluhan yang dirasakan saat dewasa (usia produktif) adalah manifestasi dari kelainan postur sejak kecil yang berkembang secara progresif.
Penanganan kelainan postur pada anak-anak selama ini kurang mendapat perhatian. Baik dari instansi kesehatan pemerintah, pendidikan bahkan orang tua. Selama ini perhatian penanganan kesehatan anak usia sekolah lebih difokuskan pada kebersihan perorangan dan lingkungan.

Dengan mengetahui gangguan postur pada anak usia sekolah, maka langkah-langkah penanganan secara preventif bahkan kuratif dan rehabilitatif dapat dilakukan dengan efektif. Diharapkan dengan kita dapat mengetahui kelainan postur, maka kita dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan dampak dari gangguan postur.


Minggu, 29 November 2009

Problematik Fisioterapi Pada Sindrome Guillain-Barre

By : Arief Hendrawan, S.St.FT
Ketua Prodi D3 Fisioterapi STIKES Al-Irsyad Cilacap

Sindrome Guillain-Barre (SGB) dikenal juga dengan nama Landry's Syndrome. SGB adalah suatu polineurophaties yang bersifat ascending dan akut (acute inflamatory). SGB sering terjadi setelah satu sampai tiga minggu setelah infeksi. SGB ini kemungkinan disebabkan oleh virus sehingga menimbulkan respon hipersensitif yang pada akhirnya menyebabkan demyelinisasi jalur lower motor neurons.
Pada SBG dijumpai tanda klinis berupa dijumpainya paralisis flacid. Kerusakan dapat terjadi pada saraf perifer, radiks dan nervus cranialis.
Etiologi :
SGB ditandai dengan serangan yang cepat. SGB merupakan suatu penyakit autoimun, dimana proses imunologis tersebut langsung mengenai sistem saraf perifer. (Priguna Sidharta, 2000). Pada umumnya sindrom ini sering didahului oleh influenza atau infeksi saluran nafas bagian atas atau saluran pencernaan. Sindrom ini dapat pula didahului oleh vaksinasi, infeksi bakteri, gangguan endokrin, tindakan operasi, anastesi dan sebagainya.
Gejala Klinik :
Gejala klinik pada SGB antara lain : timbul suatu kelumpuhan yang bersifat akut, hilangnya reflek tendon, didahului parestesi dua atau tiga minggu setelah mengalami demam disertai disasosiasi sitoalbumin pada liquor dan gangguan sensorik/motorik. Pada beberapa kasus mengenai nervus cranial 7,9 dan 10. Hal ini dapat mengakibatkan penderitaa mengalami kesulitan dalam berbicara, menelan dan bernafas. Jika kondisi ini (virus) mengenai medulla spinalis maka pasien akan mengalami kegagalan pernafasan.
Recovery pada kasus SGB terjadi tiga sampai delapan bulan.
Problematika Fisioterapi :
Terjadi kelemahan secara ascenden dan simetris, kelemahan otot proximal terlebih dahulu terjadi daripada distal, kelemahan otot dada, bulbar dan pernafasan. Kelemahan yang terjadi bersifat akut dan progresif, bisa ringan sampai tetraplegi dan gangguan nafas. Gangguan sensoris ringan (parastesia, disestesia dan perasaan baal pada ujung-ujung jari kaki yang dapat menyebar ke arah proximal), nyeri punggung dan tungkai, retensio urin dan ileus paralitik, gangguan pernafasan, kelemahan N.Cranialis 3,5,6,7,9,10, terjadi hiporefleksia, terjadi kelemahan ekstremitas bawah ascenden asimetris uppper ekstremitas serta facial.

WELCOME TO MY WORLD

SELAMAT DATANG DI WEB-BLOG-QU

about me

Siapa saya...?hanya Allah yang tau but sedikit crita nich. I'm a physiotherpist.sekarang critanya baru ngajar di Cilacap City