Senin, 27 April 2009

Fisioterapi Craniocerebral Injury


by:Alex
Craniocerebral injuries atau cidera pada kepala dapat terjadi karena dua kejadian.
Kejadian yang pertama yaitu kepala diam. Artinya trauma terjadi mengenai kepala pada saat kepala tidak bergerak.Kejadian yang kedua yaitu kepala bergerak. Artinya trauma terjadi pada kepala dimana kepala mengenai obyek yang relatif diam/tidak bergerak dan datang dengan cepat.
Kejadian I (Kepala Diam) : Cidera kepala pada kejadian I ini jarang terjadi. Contoh : luka terkena peluru/tikaman pada kepala.Jika terjadi fraktur maka dapat menyebabkan penguluran dan penekanan saraf cranial dengan karakteristik adanya kelumpuhan dan demikian juga pada pembuluh darah dapat menimbulkan komplikasi pendarahan pada extradural.Fragmen tulang mengalami depresi dengan luka goresan pada dura dan di dasar otak. Trauma yang kecil dengan kekuatan besar menimbulkan penetrasi rongga cranial membawa infeksi dan menyebabkan kerusakan otak yang extensive
Kejadian II (Kepala Bergerak):Benturan pada kepala yang mendadak dapat menyebabkan : (a) compresi distorsi dari tengkorak yang maximal pada satu sisi (b) segera soft brain berlawanan dengan promontorium bawah tengkorak yang tak beraturan, yang menyebabkan confusi atau pendarahan pada regio tersebut
Fraktur hampir berdekatan dengan letak injury atau disebabkan karena distorsi, beberapa jarak dari letak injury tersebut.
Catatan Penting:Fraktur otak berbeda dengan fraktur pada tulang yang lain. Karena pada tulang tengkorak terdapat jaringan spongiosa (jaringan lunak) sedangkan jaringan yang lain terdiri dari jaringan yang keras. Pada tulang terngkorak terdapat rongga-rongga.
Mekanisme saat terjadi cidera kepala :
Kelumpuhan total pada fungsi otak. Menyebabkan tidak berfungsinya fungsi-fungsi otak yang vital.Nadi dan pernafasan telah berhenti sejenak tetapi kemudian kembali lagi. Pada saat ini terjadi flacid paralysis dan berhentinya gerakan reflek.Fungsi reflek kembali normal, pasien dapat menjawab perintah.Gerakan disadari/voluntary dan kemampuan berbicara dapat kembali tanpa kontrol. Pasien dalam keadaan bingung gelisah dan kadang bengis. Akhirnya pasien tenang namun dalam keadaan kebingungan terus menerus.Automatism. Pasien akan menjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana dan melakukan gerakan-gerakan biasa dalam hasil perintah yang efektif ia masih pusing dan sadar akan lingkungan secara tidak sempurna. Mengembalikan fungsi otak dimulai dari tingkat terendah, fungsi tinggi diperoleh pada tingkat terakhir
Proses memperoleh kesadaran dari lambat atau cepat adalah selalu setahap demi setahap.
Perawatan Fisioterapi
1.Breathing exercise, clapping, shaking dan rib-springing dan suction penting diberikan dalam bagian pada komplikasi respirasi. Ketika bahaya masa akut terlampaui, breathing exercise masih penting dilakukan untuk melihat pernafasan pasien pada tiap-tiap perawatan.
2. Passieve movement dilakukan dua kali sehari untuk melancarkan sirkulasi dan diajarkan untuk melakukan gerakan full range dalam tiap-tiap kesempatan.
3. Positioning untuk mencegah terjadinya kontraktur. Jika mulai timbul spasme lebih baik diberikan wet cold

Minggu, 26 April 2009

Bedah Cranial (Cranial Surgery)

KONDISI YANG DAPAT DITANGANI DENGAN BEDAH CRANIAL :
1. Trauma cerebri karena head injury
2. Craniovascular disease :
a. Haemorage (pendarahan) karena aneurisma intracranial atau anomali arteri dan vena intracranial.b.Lesi Ischemik : stenosis arteria carotis
3. Infeksi cerebri yang menimbulkan abses
4. Lesi neoplasma seperti :a.Tumor cerebri,b.Tumor cereberal,c.Neurinoma acoustic
5. Diskinesia/parkinsonisme/gangguan gerak akibat perlengketan sisa peradangan otak
6. Hidrocephalus
7. Epilepsi atau kejang

Perawatan Post Operasi
Setelah operasi kepala pasien dibalut dengan elasstic bandage, termasuk mata pada sisi yang berhubungan dengan sisi yang dioperasi, untuk mencegah dan mengontrol odema post operasi. Infus intravenous diberikan sampai hari pertama post operasi.
Hindarkan kegelisahan dan kebingungan pasien juga kemungkinan pasien membuka balutan kepala karena hal ini memungkinkan terjadinya infeksi kepala (meningitis)


Komplikasi

1. LCS bocor setelah operasi maka dibutuhkan operasi lebih lanjut
2. Odema post operasi (terjadi trombosis atau perdarahan pada pembuluh darah otak)
3. Trombosis pada tempat lain dan emboli paru
4. Kejang/epilepsi
5. Komplikasi respirasi
Odema post operasi dapat menekan pusat pernafasan dari N.Vagus di medulla oblongata. Hal tersebut mengakibatkan perubahan frekuensi pernafasan, hilangnya reflek batuk dan kemungkinan hilangnya kemampuan menelan. Ini merupakan bahaya aspirasi mukus dan muntah.Sampai kembalinya kemampuan menelan pasien dapat diberi makan buatan lewat selang.Postural drainage merupakan kontraindikasi sehingga menyulitkan komplikasi chest FT.Posisi pasien yang menetap dalam posisi tertentu akan mempengaruhi tekanan darah. Untuk mengatasi hal ini kepala dapat dinaikkan 10 derajat guna meningkatkan tekanan darah.Deep breathing harus dilakukan pada level dada bagian depan dan samping.
Suction : dilakukan untuk membuang sekret/lendir jika tingkat kesadaran pasien menurun atau pasien tidak dapat batuk secara aktif. Suction sebaiknya dilakukan oleh dua orang. Satu orang melakukan suction dan satu orang membantu pasien bernafas dan batuk. Shacking, clapping dan rib springging (hentakan iga) membantu membebaskan secret.
Tracheostomy : dilakukan jika terjadi retensi CO2 akibat kesulitan pernafasan atau kebebasan jalan nafas tidak bisa dipertahankan oleh karena adanya hipersekresi akibat gangguan midbrain.

Perawatan Fisioterapi Secara Umum (sesuai dengan tujuan):
Tujuan :
1.Mencegah Komplikasi Pernafasan
2.Mempertahankan sirkulasi
3.Membuat assesmen yang tepat

WELCOME TO MY WORLD

SELAMAT DATANG DI WEB-BLOG-QU

about me

Siapa saya...?hanya Allah yang tau but sedikit crita nich. I'm a physiotherpist.sekarang critanya baru ngajar di Cilacap City